Kartu Kehidupanmu di Surga, Sebuah Ruangan

Filed Under (inspiring) by Coni on 28-08-2008

Cerita di bawah ini tentang Brian Moore yang berusia 17 tahun, ditulis
olehnya sebagai tugas sekolah. Pokok bahasannya tentang sorga itu seperti
apa. “Aku membuat mereka terperangah,” kata Brian kepada ayahnya, Bruce.
“Cerita itu bikin heboh. Tulisan itu seperti sebuah bom saja. Itulah yang
terbaik yang pernah aku tulis.” Dan itu juga merupakan tulisannya yang
terakhir.

Orangtua Brian telah melupakan esai yang ditulis Brian ini sampai seorang
saudara sepupu menemukannya ketika ia membersihkan kotak loker milik
remaja itu di SMA Teays Valley, Pickaway County, Ohio.

Brian baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, namun orangtuanya
mati-matian mencari setiap barang peninggalan Brian: surat-surat dari
teman-teman sekolah dan gurunya, dan PR-nya. Hanya dua bulan sebelumnya,
ia telah menulis sebuah esai tentang pertemuannya dengan Tuhan Yesus di
suatu ruang arsip yang penuh kartu-kartu yang isinya memerinci setiap saat
dalam kehidupan remaja itu. Tetapi baru setelah kematian Brian, Bruce dan
Beth, mengetahui bahwa anaknya telah menerangkan pandangannya tentang
sorga.

Tulisan itu menimbulkan suatu dampak besar sehingga orang-orang ingin
membagikannya. “Anda merasa seperti ada di sana,” kata pak Bruce Moore.
Brian meninggal pada tanggal 27 Mei, 1997, satu hari setelah Hari Pahlawan
Amerika Serikat. Ia sedang mengendarai mobilnya pulang ke rumah dari rumah
seorang teman ketika mobil itu keluar jalur Jalan Bulen Pierce di Pickaway
County dan menabrak suatu tiang. Ia keluar dari mobilnya yang ringsek
tanpa cedera namun ia menginjak kabel listrik bawah tanah dan kesetrum.

Keluarga Moore membingkai satu salinan esai yang ditulis Brian dan
menggantungkannya pada dinding di ruang keluarga mereka. “Aku pikir Tuhan
telah memakai Brian untuk menjelaskan suatu hal. Aku kira kita harus
menemukan makna dari tulisan itu dan memetik manfaat darinya,” kata Nyonya
Beth Moore tentang esai itu.

Nyonya Moore dan suaminya ingin membagikan penglihatan anak mereka tentang
kehidupan setelah kematian. “Aku bahagia karena Brian. Aku tahu dia telah
ada di sorga. Aku tahu aku akan bertemu lagi dengannya.”

Inilah esai Brian yang berjudul “RUANGAN”.

Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak
ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh
dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang
ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya
atau topik buku menurut abjad.

Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai
ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling
dinding itu, memiliki judul yang berbeda-beda.

Pada saat aku mendekati dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik
perhatianku berjudul “Cewek-cewek yang Aku Suka”. Aku mulai membuka arsip
itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena
terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan
tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti aku ada
dimana.

Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil
merupakan sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis
tindakan-tindakan setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan
rincian yang tidak dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan
kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam
diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak,
menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan
yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat
sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain yang melihat
arsip ini.

Arsip berjudul “Teman-Teman” ada di sebelah arsip yang bertanda
“Teman-teman yang Aku Khianati”. Judul arsip-arsip itu berkisar dari
hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh. “Buku-buku Yang
Aku Telah Baca”. “Dusta-dusta yang Aku Katakan”. “Penghiburan yang Aku
Berikan”. “Lelucon yang Aku Tertawakan”. Beberapa judul ada yang sangat
tepat menjelaskan kekonyolannya: “Makian Buat Saudara-saudaraku”.

Arsip lain memuat judul yang sama sekali tak membuat aku tertawa: “Hal-hal
yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku.”, “Gerutuanku terhadap Orangtuaku”.
Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali di
sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal daripada yang aku
bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang aku harapkan.
Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku jalani seperti
yang direkam di dalam arsip ini.

Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang
berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu
menegaskan kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan
tanganku sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku
sendiri.

Ketika aku menarik kartu arsip bertanda “Pertunjukan-pertunjukan TV yang
Aku Tonton”, aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat
isinya. Kartu-kartu arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun
dengan padat, dan setelah dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan
ujung arsip itu. Aku menutupnya, merasa malu, bukan karena kualitas
tontonan TV itu, tetapi karena betapa banyaknya waktu yang telah aku
habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan di dalam arsip ini.

Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda “Pikiran-Pikiran yang Ngeres”,
aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya satu
inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah kartu
arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa
mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal
kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah.

Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi
kartu-kartu arsip in! Tak ada seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini!
Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila
aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa
banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya.
Namun pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya
di lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi
putus asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu
sekuat baja ketika aku mencoba merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya,
aku mengembalikan kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan
kepalaku di dinding, aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani
diri sendiri.

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul “Orang-orang yang Pernah
Aku Bagikan Injil“. Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak
arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak
arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya. Aku
dapat menghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan
kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu
dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam
perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut,
dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaan yang memalukan
karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara air
mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun
boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika
aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia.

Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan
Yesus! Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka arsip-arsip itu
dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan melihat bagaimana reaksi-Nya.
Dan pada saat aku memberanikan diri memandang wajah-Nya, aku melihat
dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan
intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk.

Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan
memandangku dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba
di mata-Nya. Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku
menundukkan kepalaku, menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis
lagi. Ia berjalan mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan
banyak hal. Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis
bersamaku.

Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip.
Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan,
satu demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada
masing-masing kartu arsip. “Jangan!” seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang
dapat aku katakan hanyalah “Jangan, jangan!” ketika aku merebut kartu itu
dari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada di kartu-kartu arsip itu.
Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya
dengan tinta merah, begitu jelas, dan begitu hidup. Nama Yesus menutupi
namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus! Ia dengan lembut mengambil
kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum dengan sedih
dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan pernah
mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun kemudian
segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mendekatiku. Ia menaruh
tangan-Nya di
pundakku dan berkata, “Sudah selesai!”

Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada
kunci di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam
sisa kehidupanku.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes
3:16)

Dibalik lagu JanjiMu Seperti Fajar

Filed Under (inspiring) by Coni on 23-08-2008

Nama saya Afen Hardianto. Saya tinggal di Malang bersama dengan istri dan 2 anak saya yang perempuan 6 tahun dan yang laki-laki 4 tahun. Saya berpacaran dengan istri saya sejak duduk dibangku SMA. Pada masa kita masih pacaran hubungan kita ditentang oleh keluarga istri saya. Tetapi kita tetap berpacaran sampai akhirnya kita mendapatkan restu untuk menikah. Tanpa saya sadari ternyata saya menyimpan kepahitan dari akibat hubungan kami yang dulunya ditentang.
Dan kepahitan itu saya simpan dan pupuk dan saya bawa di pernikahan sampai menyebabkan hubungan saya dengan istri menjadi kurang harmonis di tahun-tahun awal pernikahan kami. Kemudian masuklah pihak ke tiga yang semakin memperkeruh keadaan rumah tangga kami. Dan rumah tangga saya semakin amburadul.
Saya menolak dan menganggap istri saya sebagai penghalang kebahagiaan saya, sehingga saya membenci istri saya. Rasa cinta terhadap istri sudah tidak ada lagi, yang ada adalah kebencian yang menumpuk. Saya selalu menyakiti hati istri saya, walaupun istri saya tidak membalas tetapi saya semakin menyakitinya.
Saya tidak mempedulikan anak saya, dan saya pun sibuk dengan keegoisan saya sendiri. Yang dilakukan istri saya hanya berdoa dan berpuasa, bahkan saat ia mengandung anak kami yang ke 2, ia berpuasa Ester untuk saya. Istri saya menutupi segala keadaan yang terjadi dalam rumah tangga kami dari keluarganya. Ia berpegang pada firman Tuhan di Amsal 21:1 : “jika hati raja-raja ada didalam genggaman tangan Tuhan, apalagi hati seorang Afen”
Tetapi saya tetap tidak memperdulikannya sampai pada akhirnya saya menyuruh istri saya untuk pergi dan saya antarkan istri dan anak saya pulang ke rumah orang tua istri saya. Dan orang tua istri saya pun menerima mereka dan juga menghendaki perpisahan ini dan megharapkan akan berujung pada perceraian. Saat itu istri saya berkata kepada saya, ini bukan akhir dari segalanya.
Setelah saya meninggalkan istri dan anak saya, saya berpikir saya akan menjalani hidup saya yang baru. Tetapi pada suatu malam pada saat saya sendiri Tuhan mengingatkan saya pada anak saya yang pertama, saya tiba-tiba merasakan rindu dan kangen sekali pada anak saya itu. Waktu itu anak saya masih berusia 1,5 tahun. Hati saya hancur dan saya menangis. Saya berkata kepada Tuhan : “Tuhan apakah akhir dari hidupku akan seperti ini, saya yang dari dulu (SMP) sudah melayani Tuhan sebagai pemain musik tetapi apakah rumah tanggaku akan berakhir dengan perceraian?”
Tiba-tiba Tuhan memberikan melodi kepada saya lagu : “JanjiMu Seperti Fajar”, dimana rencana saya lagu ini akan saya simpan untuk saya pribadi. Tetapi pada saat pendeta saya mau rekaman, pendeta saya kekurangan 1 lagu dan ia bertanya kepada saya, apa saya mempunyai lagu.
Dengan malu-malu saya tunjukkan lagu JanjiMu Seperti Fajar kepadanya. Saya benar-benar tidak menyangka lagu tersebut ternyata menjadi berkat bagi banyak orang, termasuk saya dan keluarga.
Dan singkat cerita Tuhan memulihkan keluarga saya. Istri, dan anak-anak saya juga sudah kembali bersatu dengan saya. Bahkan anak ke 2 saya yang dulu saya tolak dan lahir secara premature tanpa saya dampingi juga lahir dalam keadaan yang normal dan sehat.
Dan setelah keluarga saya kembali bersatu, saya juga baru mengetahui bahwa pada saat keluarga saya berantakan setiap hari istri saya menuliskan kata-kata iman di sebuah buku.
Didalam tulisannya tersebut istri saya mengatakan : Suamiku Afen pasti dikembalikan Tuhan padaku, keadaan ini adalah baik bagiku karena pasti ada anugerah besar bagiku, suamiku Afen adalah suami yang takut akan Tuhan, suamiku Afen adalah suami yang mengasihiku, semua ini mendatangkan kebaikan bagiku karena Tuhan pembelaku ada di pihakku.
Dan sekarang saya benar-benar merasakan pemulihan yang Tuhan kerjakan di dalam hidupku, bahkan saya juga tidak menyangka bahwa lagu JanjiMu Seperti Fajar menjadi lagu terbaik Indonesian Gospel Music Award 2006, menjadi theme song sebuah sinetron dengan judul yang sama, dan Tuhan memelihara hidup kami sekeluarga juga melalui lagu tersebut.
Terima kasih Tuhan Yesus Memberkati.
(from Afen Hardianto)

Tak Tersembunyi Kuasa Allah (It Is No Secret)

Filed Under (inspiring) by Coni on 23-08-2008

Stuart Hamblin
Dahulu di tahun 1950-an ada seorang penyiar radio, pelawak, dan penulis lagu di Hollywood, yang bernama Stuart Hamblin. Ia dikenal karena peminum, suka gonta-ganti wanita, suka pesta pora, dan lain-lain. Salah satu lagu hits-nya pada waktu itu adalah “Aku Tidak Mau Pergi Berburu Denganmu Jake, Tapi Aku Pergi Berburu Cewek”.

Pada suatu hari seorang pengkhotbah muda mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di tenda. Hamblin mengajaknya ikut siaran di acara radionya untuk mengolok-olok dia. Untuk mengumpulkan informasi lebih banyak untuk acaranya, Hamblin menghadiri salah satu acara KKR itu.

Pada awal acara ibadah itu sang pengkhotbah mengumumkan, “Di sini ada seorang pria yang hidupnya penuh kepalsuan.” Mungkin saja ada orang-orang lain yang merasa hal yang sama, namun Hamblin merasa yakin bahwa dirinyalah yang dimaksud pengkhotbah itu (beberapa orang menganggapnya ia tertempelak), namun ia tak bertobat.

Perkataan itu terus menghantuinya sampai beberapa malam kemudian, sehingga ia muncul di depan pintu kamar hotel pengkhotbah itu dalam keadaan mabuk pada sekitar jam 2 pagi, meminta agar pengkhotbah itu berdoa baginya. Namun pengkhotbah itu menolak, sambil berkata, “Ini adalah urusan anda dengan Tuhan dan saya tidak ingin mencampuri.” Meskipun demikian pengkhotbah ini mempersilakan Hamblin masuk ke kamar hotelnya dan mereka berbicara sampai jam 5 pagi, hingga Stuart bertekuk lutut di hadapan Tuhan dan menangis, berseru kepada Allah.

Itu bukanlah akhir kisahnya. Sejak saat itu Stuart berhenti meminum minuman keras, berhenti mengejar-ngejar wanita, berhenti melakukan segala hal yang “fun”. Segera ia mulai tidak disukai oleh lingkungan Hollywood.

Akhirnya ia dipecat dari stasiun radio itu ketika ia menolak perusahaan bir menjadi sponsor. Ia mengalami masa yang sukar. Ia mencoba menulis beberapa lagu “Kristen”, namun yang meraih sukses hanya lagu “This Old House”, yang digubah untuk temannya, Rosemary Clooney.

Sementara ia terus bergumul, seorang sahabat lamanya, John, menemuinya dan berkata kepadanya, “Semua kesulitan ini dimulai ketika engkau menemukan “agama”. Apakah hal itu layak untuk ditukarkan dengan semuanya?” Stuart berkata sejujurnya, “Ya.”

Kemudian sahabatnya ini bertanya, ”Dahulu engkau sangat menyukai minuman keras, apakah tidak pernah kepingin lagi?” Dan jawaban Stuart, “Tidak!” Lalu John berkata lagi, “Aku tidak mengerti bagaimana engkau bisa berhenti minum dengan mudah.”

Dan jawaban Stuart adalah, “Itu bukan rahasia besar. Segalanya mungkin bersama Allah.” Atas jawaban ini John berkata, “Nah, itu adalah perkataan yang menarik. Engkau harus menulis sebuah lagu tentang hal itu.”

Dan seperti orang bilang, “Selebihnya kemudian menjadi sebuah sejarah.” Lagu yang digubah Stuart adalah “It Is No Secret” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, “Tak Tersembunyi Kuasa Allah.” Lagu ini telah menjadi berkat bagi banyak orang.

“Tak tersembunyi, kuasa Allah
Yang lain ditolong, saya juga
Tangan-Nya terbuka, menunggulah
Tak tersembunyi, kuasa Allah.”

Ngomong-ngomong, sahabat Stuart itu adalah John Wayne. Dan pengkhotbah muda yang menolak mendoakan Stuart Hamblin? Dialah …Billy Graham! (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon agar bagian ini jangan dihapus/didelete ketika anda memforwardnya)

*****

STUART HAMBLIN
Back in the 1950’s there was a well known radio host/comedian/song writer in Hollywood named Stuart Hamblin who was noted for his drinking, womanizing, partying, etc. One of his bigger hits at the time was “I won’t go hunting with you Jake, but I’ll go chasing women.”

One day, along came a young preacher holding a tent revival. Hamblin had him on his radio show presumably to poke fun at him. In order to gather more material for his show, Hamblin showed up at one of the revival meetings.

Early in the service the preacher announced, “There is one man in this audience who is a big fake.” There were probably others who thought the same thing, but Hamblin was convinced that he was the one the preacher was talking about (some would call that conviction) but he was having none of that.

Still the words continued to haunt him until a couple of nights later he showed up drunk at the preacher’s hotel door around 2AM demanding that the preacher pray for him!

But the preacher refused, saying, “This is between you and God and I’m not going to get in the middle of it.” But he did invite Stuart in and they talked until about 5 AM at which point Stuart dropped to his knees and with tears, cried out to God.

But that is not the end of the story. Stuart quit drinking, quit chasing women, quit everything that was ‘fun.’ Soon he began to lose favor with the Hollywood crowd. He was ultimately fired by the radio station when he refused to accept a beer company as a sponsor. Hard times were upon him. He tried writing a couple of “Christian” songs but the only one that had much success was “This Old House”, written for his friend Rosemary Clooney.

As he continued to struggle, a long time friend named John took him aside and told him, “All your troubles started when you ‘got religion,’ Was it worth it all?” Stuart answered simply, “Yes.” Then his friend asked, “You liked your booze so much, don’t you ever miss it?” And his answer was, “No.” John then said, “I don’t understand how you could give it up so easily.” And Stuart’s response was, “It’s no big secret. All things are possible with God.” To this John said, “That’s a catchy phrase. You should write a song about it.”

And as they say, “The rest is history.” The song Stuart wrote was “It Is No Secret.” The song has blessed many people since then.

“It is no secret what God can do.
What He’s done for others, He’ll do for you.

With arms wide open, He’ll welcome you.
It is no secret, what God can do …”

By the way … the friend was John Wayne. And the young preacher who refused to pray for Stuart Hamblin? … That was Billy Graham.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Visit Yogyakarta / Jogja